Malam menutup kota dengan selimut lampu yang remang. Aku duduk di tepi jendela, memegang secangkir kopi yang sudah mulai mendingin, dan menunggu sesuatu yang tak kuerti namanya: apakah ini harap atau hanya kegelisahan yang pandai menyamar?
Gelisahnya seperti udara dingin yang menusuk, namun di dalamnya terselip kehangatan yang aneh—sebuah kebaikan yang tak terduga. Nikmatnya bukan kenikmatan polos; ia bercampur dengan kecemasan, sehingga rasanya seperti memegang es krim pada hari yang panas: meleleh, lengket, tetapi juga menyegarkan. Di situ aku sadar: ketidakpastian bisa terasa seperti hadiah yang tajam—menyedot keberanian dan memberi peluang bersama-sama. Malam menutup kota dengan selimut lampu yang remang
Aku menutup laptop, membiarkan layar gelap memantulkan wajah yang lebih tenang dari sebelumnya. Di luar, kota masih bergerak; di dalam, hatiku masih berdegup. Nikmat dan gelisah—dua warna yang tak selaras namun bisa membuat lukisan malam ini lebih berwarna. Di luar, kota masih bergerak; di dalam, hatiku